Penulis: Angga Yayang Erawan
Selama bertahun-tahun, internal audit sering dipersepsikan sebagai aktivitas rutin: membuat jadwal audit, datang ke lokasi, memeriksa dokumen, menemukan ketidaksesuaian, lalu membuat laporan. Cara pandang seperti ini menjadikan audit hanya sebagai kewajiban administratif, bukan sebagai alat strategis untuk meningkatkan kinerja organisasi.
Padahal, internal audit yang efektif memiliki tujuan yang jauh lebih besar, yaitu membantu perusahaan menemukan peluang perbaikan, mengendalikan risiko, meningkatkan efektivitas proses, serta mendorong budaya perbaikan berkelanjutan (continuous improvement).
Ada beberapa pembelajaran penting yang perlu dipahami agar pelaksanaan internal audit tidak sekadar menjadi formalitas, tetapi benar-benar memberikan dampak. Pembelajaran ini dapat menjadi dasar untuk mengubah cara berpikir auditor sekaligus menjadikan pelatihan internal audit lebih menarik, relevan, dan aplikatif.
Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah menjadikan audit sebagai kegiatan mekanis:
Pendekatan seperti ini biasanya menghasilkan audit yang dangkal. Auditor hanya fokus mencari bukti kesesuaian atau ketidaksesuaian tanpa memahami akar masalah maupun kondisi nyata di lapangan.
Audit seharusnya bukan sekadar aktivitas “memeriksa”, tetapi aktivitas “memahami”.
Auditor perlu memahami:
Jika auditor tidak memahami konteks tersebut, audit hanya akan menghasilkan laporan tanpa memberikan manfaat nyata bagi organisasi.
Internal audit yang baik ibarat dokter yang memeriksa pasien. Dokter tidak langsung memberikan obat tanpa memahami riwayat penyakit, gejala, maupun hasil pemeriksaan sebelumnya. Demikian pula auditor harus memahami kondisi organisasi sebelum melakukan audit.
Salah satu pembelajaran paling penting adalah bahwa keberhasilan audit sangat dipengaruhi oleh tahap persiapan (audit preparation).
Persiapan audit sering diabaikan karena dianggap membuang waktu. Padahal, justru tahap inilah yang menentukan apakah audit akan menghasilkan temuan yang bernilai atau sekadar menjadi formalitas.
Ada beberapa hal yang perlu dilakukan sebelum audit.
Auditor perlu menjawab pertanyaan:
“Audit ini dilakukan untuk apa?”
Tujuan audit tidak boleh hanya sekadar “sesuai jadwal tahunan”.
Contoh tujuan audit yang lebih spesifik antara lain:
Tujuan yang jelas akan membuat proses audit menjadi lebih fokus dan terarah.
Sebelum audit dilakukan, auditor perlu mempelajari data yang relevan, seperti:
Data tersebut membantu auditor mengetahui area yang memiliki risiko atau permasalahan lebih tinggi.
Audit tanpa melihat data ibarat mencari sesuatu di ruangan gelap.
Setiap area biasanya memiliki tantangan yang berbeda.
Contohnya:
Dengan memahami isu yang terjadi, auditor dapat menentukan fokus pemeriksaan secara lebih tepat.
Program audit tidak seharusnya selalu sama setiap tahun. Checklist audit yang digunakan secara berulang tanpa mempertimbangkan perubahan kondisi dapat menghasilkan temuan yang sama atau bahkan tidak menemukan masalah baru.
Program audit harus disesuaikan dengan:
Pendekatan ini dikenal sebagai risk-based auditing atau audit berbasis risiko.
Semakin tinggi risiko suatu area, semakin besar perhatian yang perlu diberikan auditor.
Masih banyak auditor yang merasa tugasnya selesai setelah menemukan ketidaksesuaian.
Padahal, nilai terbesar dari audit bukan terletak pada jumlah temuan, melainkan pada perbaikan yang dihasilkan.
Audit seharusnya menjawab pertanyaan:
“Apa yang perlu diperbaiki agar proses menjadi lebih baik?”
Auditor perlu mengubah pola pikir dari:
“Mencari kesalahan”
menjadi:
“Mencari peluang perbaikan.”
Perubahan pola pikir ini sangat penting karena audit sering kali dianggap menakutkan oleh auditee.
Jika auditor hanya datang untuk mencari kesalahan, area yang diaudit cenderung menjadi defensif. Sebaliknya, apabila auditor hadir untuk membantu meningkatkan proses, audit dapat menjadi sarana kolaborasi untuk menemukan solusi.
Internal audit yang efektif dapat menghasilkan:
Artinya, audit memberikan nilai tambah bagi organisasi.
Auditor bukan polisi perusahaan. Auditor adalah partner dalam perbaikan.
Salah satu kesalahan umum auditor pemula adalah melakukan sampling secara acak tanpa mempertimbangkan risiko.
Akibatnya, auditor dapat melakukan sampling pada area yang relatif baik sehingga:
Lalu muncul kesimpulan:
“Semua sudah baik.”
Padahal, belum tentu demikian.
Karena itu, pengambilan sampel harus dilakukan secara strategis. Fokuskan sampling pada area yang:
Contohnya, jika tingkat reject meningkat pada shift malam, auditor perlu memperbanyak sampling pada shift tersebut.
Jika banyak komplain pelanggan terkait pengiriman, auditor dapat memfokuskan audit pada proses logistik.
Pendekatan ini membuat audit menjadi lebih efektif dan mampu memberikan informasi yang lebih relevan.
Tujuan sampling bukan sekadar mencari bukti bahwa sistem berjalan dengan baik. Tujuan sampling adalah menemukan fakta yang dapat membantu organisasi melakukan perbaikan.
Salah satu tantangan dalam pelatihan internal audit adalah materi yang sering dianggap membosankan karena terlalu banyak teori.
Padahal, pembelajaran audit dapat dibuat lebih menarik dan aplikatif melalui beberapa pendekatan berikut:
Peserta akan lebih mudah memahami konsep ketika belajar melalui kasus nyata dibandingkan hanya mempelajari definisi.
Contohnya:
Peserta kemudian diminta menganalisis kasus tersebut dari sudut pandang auditor.
Gunakan metode permainan peran (role play) dengan membagi peserta menjadi:
Peserta kemudian melakukan wawancara, menelusuri proses, mencari bukti objektif, dan menentukan temuan berdasarkan kondisi yang ditemukan.
Metode ini dapat membantu peserta memahami proses audit secara lebih cepat dan praktis.
Berikan peserta data KPI atau data performa suatu proses, kemudian minta mereka menentukan:
Dengan cara ini, peserta tidak hanya belajar mengenai teknik audit, tetapi juga dilatih untuk berpikir kritis dan berbasis data.
Mintalah peserta tidak hanya menemukan masalah, tetapi juga mendiskusikan peluang perbaikan berdasarkan temuan yang ditemukan.
Pendekatan ini membantu membangun improvement mindset sehingga auditor tidak hanya berorientasi pada temuan, tetapi juga pada nilai tambah yang dapat diberikan kepada organisasi.
Baca Juga Artikel Lainnya:
Internal audit yang efektif bukanlah aktivitas rutin yang hanya berisi jadwal, checklist, dan laporan. Audit harus dimulai dengan persiapan yang matang, memahami tujuan, mempelajari kinerja, mengidentifikasi isu, menyusun program audit berdasarkan risiko, serta berfokus pada perbaikan.
Selain itu, teknik sampling harus dilakukan secara strategis dengan memberikan perhatian lebih pada area yang memiliki risiko atau permasalahan tinggi agar audit dapat menghasilkan temuan yang bernilai.
Perubahan pola pikir yang paling penting adalah memahami bahwa auditor bukan sekadar pencari kesalahan, tetapi agen perbaikan dalam organisasi.
Ketika audit dilakukan dengan pendekatan yang tepat, hasilnya bukan hanya temuan, tetapi perubahan. Bukan hanya laporan, tetapi peningkatan kinerja.
Pada akhirnya, internal audit dapat menjadi alat strategis yang membantu organisasi berkembang dan menjadi lebih baik.
Internal audit yang hebat tidak diukur dari banyaknya temuan, tetapi dari seberapa besar perbaikan yang berhasil diciptakan.
There is Always Room For Improvement
Divisi Quality Sentral Sistem Consulting siap melayani Anda untuk memberikan konsultasi Quality Improvement System untuk industri otomotif (IATF 16949:2016) atau Quality Management System yang digunakan untuk berbagai organisasi dan membantu melayani Sertifikasi \& Pelatihan ISO, antara lain ISO 9001, ISO 14064, ISO 14001, ISO 45001, ISO 37001, ISO 27001, ISO 50001, ISO 37301.
Info lebih lanjut, silahkan langsung menghubungi:
Marketing Sentral Sistem Consulting
What did you think of this post?