Penulis: Achmadsyam Ramadhani
Sebut saja kata "audit" di depan tim Anda dan perhatikan apa yang terjadi. Kemungkinan besar, ada yang langsung terdiam, ada yang tiba-tiba terlihat sangat sibuk, ada yang berpura-pura tidak mendengar.
Audit identik dengan ketakutan, formalitas yang kaku, dan kesan "sedang diperiksa". Padahal, seharusnya tidak begitu.
Ini bukan berarti audit menjadi tidak serius. Justru sebaliknya audit yang dilakukan dengan pendekatan yang tepat, berdasarkan ISO 19011, dapat menjadi momen paling produktif dan bahkan paling dinantikan oleh tim. Kunci rahasianya? Auditor yang tahu cara membuat auditee merasa aman, didengar, dan dihargai.
“The audit is not about finding fault. It’s about finding facts and helping the organization improve.”
— ISO 19011 Philosophy
ISO 19011 mengajarkan bahwa audit yang baik dimulai dari perencanaan yang matang bukan dari kejutan. Bayangkan Anda diundang ke sebuah acara tanpa tahu dress code-nya. Canggung, bukan? Hal yang sama terjadi dalam audit mendadak yang membuat auditee panik dan bersikap defensif.
Komunikasi jadwal audit yang transparan, ruang lingkup yang jelas, serta tujuan yang disampaikan dengan ramah adalah langkah pertama dalam mengubah persepsi negatif terhadap audit. Auditor bukan detektif yang mencari kesalahan mereka adalah mitra yang membantu sistem bekerja lebih baik.
Rafi, seorang auditor muda di sebuah perusahaan manufaktur, memiliki kebiasaan unik sebelum memulai audit: ia mengirimkan "Audit Hype Card" sebuah pesan singkat berisi tujuan audit dan satu pertanyaan ringan, seperti: "Kalau proses ini bisa diperbaiki satu hal saja, apa yang paling ingin kamu ubah?"
Hasilnya? Auditee datang ke sesi audit dengan antusias, bukan dengan cemas. Percakapan mengalir lebih alami, dan temuan yang dihasilkan jauh lebih substantif.
Generasi sekarang, Gen Z dan Millennials butuh ruang untuk didengar. Mereka bukan tipe yang nyaman dengan interogasi satu arah. Nah, disinilah auditor berbasis ISO 19011 punya keunggulan: standar ini mendorong pendekatan berbasis bukti yang objektif, bukan berbasis asumsi atau tuduhan.
Saat auditee merasa pertanyaan yang diajukan adalah untuk memahami, bukan menjebak, mereka akan terbuka. Tiba-tiba audit berubah menjadi ruang di mana mereka bisa jujur soal bottleneck di proses kerja, hambatan yang selama ini nggak berani disampaikan ke atasan, bahkan ide-ide segar yang selama ini tersimpan.
Auditor yang baik mendengarkan dua kali lebih banyak dari berbicara. Gunakan pertanyaan terbuka seperti: "Ceritain dong, biasanya prosesnya seperti apa?" bukan "Kenapa SOP-nya nggak dijalankan?"
“Listening is the most underrated audit skill.”
— Richard Chambers, Mantan CEO IIA Global
Fun dalam audit bukan berarti santai tanpa struktur. ISO 19011 tetap mensyaratkan audit yang sistematis, terdokumentasi, dan berorientasi pada peningkatan berkelanjutan. Yang berubah adalah caranya bukan standarnya.
Beberapa pendekatan yang dapat diterapkan:
Baca Juga:
Ketika auditee keluar dari sesi audit dengan senyum dan rasa lega itulah tanda bahwa audit telah berhasil: bukan hanya sebagai mekanisme kontrol, tetapi sebagai katalis pertumbuhan organisasi.
Audit bukan momok. Audit adalah cermin, jika dipegang dengan cara yang tepat, akan membantu organisasi melihat dirinya lebih jelas dan bergerak lebih maju.
Jadilah auditor yang membuat orang berkata, "Kapan audit lagi?" bukan "Syukurlah sudah selesai."
Kami membantu organisasi bertransformasi menuju kinerja yang lebih efektif, efisien, dan terukur. Melalui implementasi ERP, perancangan ulang proses bisnis (Business Re-Engineering), Business Process Management, hingga program Continuous Improvement yang berkelanjutan. kami memastikan setiap langkah perubahan menghasilkan nilai nyata bagi bisnis Anda.
Info lebih lanjut, silahkan langsung menghubungi:
What did you think of this post?